Archive for June, 2005

kesedihanhotelchelsea

Tuesday, June 21st, 2005

KESEDIHAN HOTEL CHELSEA

Cerpen : bessy

Aku adalah karakter "B" di dalam buku "From A To B And Back Again The Philosophy Of Andy Warhol" yang bersemayam di kepala seorang penulis muda yang berada dalam situasi depresi yang parah karena harus menulis di media massa untuk mendapatkan uang (dan begitu sedikitnya sehingga tidak mampu menutup riset yang dilakukannya), menarik diri dari kehidupan sosial dan tidak-lagi-menjumpai-jalan-keluar-kecuali-menulis-atau-bunuh diri.

Seperti kanker, aku menghisap habis seluruh hidupnya dengan bermega-mega byte data biografi diriku yang didownloadnya dengan 4 disket murahan dari sebuah warnet, memenuhi sebagian besar alam bawah sadarnya dengan adegan-adegan yang tidak koheren, campur-aduk dan menjelma mimpi buruk yang berulang tiap malam dan di pagi harinya, merasakan sakit kepala karena sesak pikiran yang membanjir minta tubuh dalam rangkaian kalimat, seperti adegan-adegan di bawah ini yang terjadi waktu pembuatan film Chelsea Girls…

**************************************

Aku tinggal di kamar bernomor 907, di lantai 2, di sisi luar tembok kamarku, neon sign hotel : Chelsea Hotel. Tiap senja aku biasa berdiri di depan jendela, berlama-lama menatap kejap-kejap lampu neon hotel yang menyimpan kesedihannya sendiri yang berlarat-larat, memanggil-manggil jiwa-jiwa kesepian dari seluruh penjuru dunia untuk datang dan tinggal. Yang berencana hanya seminggu akhirnya akan terjebak bertahun-tahun dengan ritual tiap senja datang kembali ke meja resepsionis, memesan kamar yang sama meski menggunakan nama yang berbeda, menatap sebentar penghuni-penghuni baru, menjumpai situasi nausea yang sama, merasa semakin sendiri untuk kemudian kembali ke kamar dan menangis diam-diam di sudut ranjang.

Berdiri tegak bersama ingatan kejayaan masa lalu yang terus berlanjut di film-film terbaru, diapit oleh toko gitar bekas dan toko peralatan memancing, hotel ini adalah arus hidup itu sendiri. Chaos yang memanifestasikan diri melalui para individual yang berkeras hati untuk hidup dengan cara mereka sendiri, tubuh-tubuh yang menolak untuk patuh dan disiplin, meracuni ruh dengan keindahan, tenggelam dalam kreativitas dan perbedaan, tidak untuk alasan tertentu kecuali hanya untuk mengejek kerumunan dan pemimpin-pemimpin politis mereka (demi segala ruh, dihadapan wajah Kemanusiaan telah aku ludahi mereka dengan dahakku yang berwarna hitam).

Aku baru saja terbangun karena mendengar dering telepon semakin mengeras. "Not again", itu pasti telepon dari Andy Warhol. Andy adalah seniman genius yang mampu menciptakan peradaban sendiri, kemampuan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di dalam sejarah, tapi bagiku, dia tak lebih dari seorang teman baik yang hanya aku butuhkan untuk membunuh waktuku karena tidak lagi yang mengejutkanku di dalam kehidupan ini, "Sebentar A, aku akan menghidupkan alat perekam".

Beberapa bulan terakhir mesin-mesin berukuran kecil mulai mengambil-alih segalanya, setelah orgasme tak berkesudahan dengan dildo, aku tergila-gila pada tape recorder dan kamera polaroid. Seperti seorang maniak, aku merekam apapun yang terjadi di sekelilingku, percakapan-percakapan omong kosong dan gerak tubuh-tubuh yang terjebak dalam kekinian, akan menjadi abadi.

"Ok, Andy, sekarang kau bisa berbicara".

"Brigid, apakah kamu masih menyimpan kaset rekaman percakapanmu dengan ibumu ? Aku akan membelinya $ 25 sebuah."

"Kenapa kamu menginginkannya, isinya khan cuma pertengkaran-pertengkaran Freudian tak berujung pangkal…"

"Apakah kamu masih membenci ibumu ? ", Andy terus menerus menanyakan hal ini di telepon tiap pagi mungkin dia berharap aku mau sedikit mengubah kelakuanku pada ibuku.

"Ya, tentu saja masih. Aku masih belum mengerti kenapa dia terus memaksaku menguruskan badan dan menyuruhku untuk mengenakan gaun dengan renda-renda, hanya untul menjadi socialite yang elegan ?"

"Dan Andy, sekali lagi aku katakan padamu, dia selalu memakai hairspray, bahkan ketika pergi tidur dan dia tidak peduli kalau aku selalu sakit kepala kalau berada di dekatnya, karena itu aku membencinya."

"Anyway, A, aku mau turun ke restoran sebentar…mulutku sangat kering, aku mau membeli coklat.". Setelah mendengar suara batuknya, Andi berkata, "Ok…Tolong cubitkan pantat penjaga lift yang mirip James Dean itu yah.". "Baik, A, aku segera kembali", aku mematikan tape recorder dan kemudian mencuci mukaku di wastafel.

************************************

Lobby ini terlihat seperti galeri seni atau museum. Pada dindingnya aku temukan lukisan-lukisan dengan ukuran besar dari pelukis-pelukis yang pernah tinggal di sini. Tepat di bawah 6 jam dinding besar (penanda waktu dari seluruh dunia, di sini orang-orang hidup dalam waktunya sendiri-sendiri, sejumlah orang sedang makan malam terserak ke penjuru kota, yang lain baru saja mengalami mimpi buruk) dengan lingkaran sempurna, tergantung potret hitam-putih hotel ini di tahun 1902, di sudut kiri bawahnya aku temukan, ditulis dengan tinta emas, berjudul Menara Babel.

Di sini aku melihat orang-orang dari masa lalu, hantu-hantu juga sampar berjalan hilir-mudik dengan bahasa-bahasa yang khas milik mereka sendiri. Pintu lift terbuka, aku melihat tetangga sebelah kamarku berdiri dengan mata sayu-kurang-tidur menatapku lurus-lurus, "Nanti syutingnya jam berapa ?"

"Paling setelah makan siang" aku segera mendekat dan meraih tangannya, "Ayo kita ke restoran, sepertinya kau butuh ngobrol denganku !" Nico dengan ogah-ogahan menyeret kakinya mengikutimu. Oh, my God…bahkan pada situasi terburuk, perempuan yang satu ini tetap menjadi mahkluk terindah yang pernah diciptakan P0Pular Culture.

Restoran lengang. Kursi-kursi dan meja-meja berbincang-bincang dengan suara pelan. Dari sebuah jukebox di sebelah pintu masuk aku mendengar sebuah komposisi dari Bach, Air…. Aku memilih meja di tengah. Aku paling suka menjadi bagian dari ruang kosong yang besar, perasaan keagungan yang tak terpermanai merengkuh ruh.

Aku selalu ingat impresi pertama pertemuanku dengannya, sebuah kenyataan yang kasat mata bahwa Nico adalah orang yang menyukai kesendirian, dia selalu menutup diri pada orang-orang baru. Suatu kali aku pernah bertanya kenapa dia melakukan hal itu, dengan tegas dia menjawab, "Aku tidak mau dibebani masalah orang lain, aku ingin waktuku habis dengan bercakap-cakap dengan hantu ayahku yang dibunuh Nazi".

Sejak kecil Nico tidak pernah bertemu dengan ayahnya dan hidup dalam imajinasi kehadiran hantu ayahnya di manapun dia berada. Dan dia begitu membenci orang-orang yang memujanya karena wajahnya yang begitu cantik. Dia lebih suka dikenal sebagai perempuan pemberontak yang sedih, mabuk di atas panggung dan selalu over dosis, sebuah image yang baru-baru ini dipopulerkan oleh Janis Joplin.

"So, bagaimana kabar Andy, sudahkah dia meneleponmu pagi ini ?". Belum sempat aku menjawab, seorang waitress mendekat kemudian menyerahkan daftar menu. "Mau pesan apa ?", sebuah pikiran menyeruak, betapa aku suka dengan hotel ini, bahkan wajah seorang waitresspun tak beda jauh dengan bintang-bintang film di bioskop. "Kopi dan dua batang coklat ukuran terbesar, Nico ?" "Susu coklat hangat". Waitress mencatat di buku kecil dan tersenyum kecil sebelum berlalu.

"Ya, dia sudah telepon tadi, sepertinya dia terkena flu, dan Nico, Andy semakin paranoid, kemarin dia terpanik-panik sendiri, dia bilang sudah terlalu banyak drugs di gerombolan ini, dia takut kalau-kalau ada yang over dosis". Restoran lengang, Air Bach masih mengapung di udara.

"Aku tidak sabar untuk hari terakhir shooting ini", aku mengulurkan sebatang cigarette ke tangannya. Dia menolak ketika aku akan menyalakannya, memain-mainkannya di antara jari-jarinya yang lentik untuk kemudian dikulumnya, beberapa detik kemudian pandanganku mengabur, sepertinya sisa-sisa amphetamine dalam kepalaku aktif bekerja kembali, aku terserang halusinasi restoran, dalam warna hitam putih aku melihat seseorang menembak seorang pendeta perempuan di dalam gereja, orang-orang berlarian, menahan jeritan dan bersembunyi di bawah kursi, darah mengalir dari reruntuhan altar menuju ke jalan.

*************************************

Hari terakhir pengambilan gambar. Kamar 732. Orang-orang tidak sabar untuk merayakannya. Andy mengintip di balik lensa kamera, tiang-tiang penyangga lampu dan kabel-kabel berserakan. Action ! Nico meraih gunting di sebelah telepon, menatap dirinya sendiri di depan cermin dan memulai monolognya…"Aku menjadi saksi kelahiran bintang-bintang dan kematiannya. Ribuan hari-hari yang penuh kesedihan dan nostalgia terus-menerus menyerangku tiap kali mesin projektor menembakkan cahaya di dinding Oh, waktu yang bersemayam dalam diri…Oh, waktu sinematik…"

"Cut !", Andy keluar dari kungkungan lensa kamera, "Film ini akan menjadi dinamit bagi orang-orang tolol di luar sana, mari berpesta !". Bintang-bintang baru berpelukan, dari kamera polaroid aku sempat melihat setetes air mata jatuh ke pipi Nico. Suara gedoran di pintu dan teriakan-teriakan. Tiba-tiba beberapa polisi merangsek ke dalam kamar dan langsung menggeledah badan. Semua terdiam. Mereka tidak menemukan apa-apa, kecuali beberapa pil desoxyn. Di tengah serangan rasa panik pada dinding aku melihat darah mengalir dari arah reruntuhan altar menuju ke jalan.

deliriumvespertine

Tuesday, June 21st, 2005

DELIRIUM1 VESPERTINE2

Oleh : Bessy

Aku ingat (aku sebenarnya tak berhak menggunakan kata ajaib ini ; hanya satu orang di muka bumi berhak menggunakannya, dan dia sudah mati, namanya Borges). Saat itu senja seperti kemarin, aku mengajak bermain-main anjing kesayanganku, Warhol ke pinggir pantai. Warhol kelihatan sangat gembira, genit dan necis. Mengejar ombak yang surut ke laut dan berlari-lari menghindar ketika ombak kembali mencium pantai. Aku tahu tidak akan pernah lagi mendapatkan kegembiraan yang murni seperti itu.

Seperti biasanya aku kembali menantang matahari, tapi matahari senja ini begitu kuat melawanku. Baru 20 detik aku menatapnya, pandanganku menjadi sedikit kabur dan sesudahnya rasa pusing yang asing menyergap. Aku mengarahkan mataku ke arah selatan, mencari rimbunan pohon-pohon untuk meredakan rasa asing ini. Tepat pada saat itu mataku bersitatap dengan mata sayu-kurang-tidur seorang laki-laki dengan buku tebal di tangannya kirinya.

"Kamu nggak papa khan ?", dia bertanya. "Nggak papa", jawabku sambil berusaha keras menjaga tubuhku untuk tetap tegak berdiri. "Kenalkan, namaku Jim Morrison". Mendengar suaranya, sebuah komposisi musik Wagnerian lahir di kepalaku. "Nartie", aku menjawab sambil mengulurkan tanganku. Untuk menghilangkan kecanggungan aku bertanya, "Kenapa namamu sama dengan nama vokalis grup kugiran The Doors ?" Dia menjawab "Aku terobsesi dengannya". Aku melihat matahari yang satu itu, hampir tepat di belakang kepalanya.

"Tidakkah lebih baik kau menjadi dirimu sendiri ?" tanyaku kembali. Kakiku terasa hangat dijilati anjingku. Sepertinya Warhol sudah bosan bermain-main, selama 6 hari ini dia terus bermain-main.

Lalu dengan muka yang dingin dan seperti tanpa perasaan dia berkata, "Tidakkah manusia sudah mati ! Manusia tak lebih dari segerombolan bahasa yang disusun oleh fragmen-fragmen televisi yang terus menerus diulang tayangannya. Lalu dia menyeringai seperti baru saja melakukan kenakalan kecil, seringai yang akan selalu kukenang setiap kali membaca puisi. Jilatan lidah Warhol semakin sering bahkan dia mulai melolong. "Maaf, aku harus pulang!". "Take care, bye !", dia menyahut sambil memaksakan sebuah senyuman padaku.

Malamnya aku tidak bisa tidur. Terus menerus aku teringat nada suaranya yang rendah dan berat itu. Dia sangat gentle, berbicara padaku selalu seolah-olah kita sudah berada di atas ranjang, saling menyentuh dengan kerinduan ilahiah seperti mistikus yang berdzikir sambil mendengarkan lagu Violently Happy-nya Bjork.

Seperti seorang junkie, aku kecanduan pergi ke pantai setiap senja. Berharap-harap cemas kalau-kalau tak lagi dapat aku melihat matanya. Syukurlah senja memberikan lagi kehidupan bagiku. Untuk sekelebatan bunga-bunga bermekaran dan doa-doa dalam nada gotik yang muram ditembakkan di langit oleh para pendeta abad pertengahan.

I found an island in your arms… Country in your eyes… Arms that chain us… Eyes that lie…3dia bersenandung, pandangan matanya jauh ke arah laut, mungkin dia sedang menikmati horizonnya sendiri, utopia itu. Aku menemukan negara di matamu… dia kembali berkata padaku. Aku bingung, aku tidak tahu apa maksudnya… Tapi aku tahu bahwa aku tidak mungkin menanyakannya padanya, dia kembali tenggelam dalam pikiran-pikirannya sendiri.

"Kamu melihat reruntuhan gereja4 itu ?", tangannya menunjuk ke arah selatan. Sebuah lingkaran reruntuhan gereja kuno setua Gereja Blenduk Semarang menyeruak dari kejauhan. Aku ingat ketika aku masih kecil, setiap hari Minggu pagi aku sering bermain ayunan di sebelahnya. Sebenarnya saat itu aku hanya ingin mencuri-dengar bahasa asing yang tiba-tiba muncul di sela doa-doa, saat itu aku merasa damai dan tenteram.

"Mereka akan membangun aquarium raksasa di sana! Lihatlah orang-orang sudah mulai lupa bagaimana cara menghargai masa lalu kota mereka sendiri. Sayangnya, sekarang aku tidak lagi tertarik dengan hal-ihwal keduniawian lagi. Kemudian dia mengutip William Shakespeare,

I shall fall

Like a bright exhalation in the evening,

And no man see me more

Henry VIII (1613) act 3, sc. 2, l. 226

Lanjutnya, "Aku lebih suka mendengarkan musik dari deburan ombak dan mengingat detil tulisan tangan Tuhan di punggung seekor macan seperti yang aku baca pada Tulisan Tangan Tuhan milik manusia huruf-huruf itu dan tidak berbuat apapun atas pengetahuan maha rahasia itu. Kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padaku sudah habis waktunya, Banjir Nuh telah datang lagi dimulai dari video clip My Sacrifice-nya grup rock Creed. Setelah ini api akan membakar kota-kota, Tuhan memulainya dari Cepu." Maaf mungkin ini terlalu berat buatmu!",dia berkata sambil meringis. "Tidak apa-apa", sahutku. Terus terang aku merasa nyaman mendengarkan nada suaranya itu.

Senja berikutnya dia menyerahkan selembar kertas berisi puisi-puisinya. Aku melihat deretan huruf yang memanjang tanpa ruang kosong di sela-selanya dengan logika yang jungkir balik. "Aku membenci spasi", dia berhasil menebak pikiranku. "Aku juga membenci tendensi untuk linear, aku hanya ingin membiarkan huruf-huruf berhamburan dari benakku mengikuti beat, oh demi Afrizal seandainya kau tahu apa yang ada di labirin kepalaku." Aku cuma bisa berkata, "Ya…ya…yaa…

Di senja yang lain, aku menemuinya terikat di sebuah tiang di tengah pasir yang sepi di sekitar kakinya berpuluh-puluh mawar terserak membentuk satu lingkaran yang sempurna. Di luar lingkaran itu sebuah pestol mainan anak-anak tergeletak. Dengan wajah panik seolah-olah akulah sang maut itu dia berteriak, "Cepat selesaikan ! Aku sudah lelah ! " Beberapa saat kemudian dia tertawa terbahak-bahak, aku pikir sepertinya dia punya soul seorang badut berkulit hitam.

Senja yang ke lima. Dia duduk di atas pasir, tubuhnya basah kuyup, tangannya mencoba meraih botol bir, "Cukup!" kataku sambil merebut botol itu dan segera berlari membuangnya jauh-jauh ke laut. Aku kembali dan tanpa aku sadari air mataku jatuh menetes. "Kenapa kau ingin selalu mabok ?", tanyaku dengan terisak-isak. Aku merasa dadaku berat sekali, dan ya ampun, tidak ada perubahan raut muka pada dirinya."Kamu jahat !" Aku mulai berteriak.

Terjadi sedikit kemajuan tangannya meraih kedua tanganku dan berkata, " You ‘re lost littlegirl… Learn to forget…. ‘cause I ‘ve lost my good old mama
and must have whiskey, oh, you now why5…Sekarang matanya menatap langsung mataku seolah-olah aku ini ibunya. Aku menunduk. Sebuah rahasia tak lagi bisa disembunyikan. Aku tahu aku telah jatuh cinta padanya. Pada saat yang bersamaan aku juga tahu bahwa dia lebih suka sendiri dengan seluruh perasaan-perasaan sedihnya yang hampir-hampir sempurna itu.

"Aku tahu kamu jatuh cinta padaku ! Tapi, maaf, aku bukalah laki-laki yang tepat buatmu. Aku telah terjebak pada sebuah semesta chaos dan tak bisa lagi keluar. Aku telah menjalani dan akan terus menjalani sebuah cara hidup yang salah, membenci realitas dan hidup di dalam dunia imajinasi. Aku nggak mau ada perempuan yang terseret dalam neraka ini. Aku yakin kau akan mampu melupakanku." Semesta, ya ampun aku melihat Jelaludin Rumi menari-nari bersama ribuan bintang di matanya yang selalu sayu itu.

"Tidak akan ada yang mampu bertahan berada di dekatku. Aku terus menerus menguji orang, mencoba mencari tahu sejauh mana mereka akan mau bertahan berhadapan dengan seluruh perasaan-perasaan sedihku, bagaimana mereka akan bereaksi atas diriku. Bahkan aku sudah bosan dengan diriku sendiri ". Mataku jauh menerawang ke horizon, "Aku mencintaimu", kataku pelan.

"

Aku hanya ingin dekat kamu. Aku ingin mengenal nerakamu. Merasakan di setiap aliran darahku, hanyut dan tenggelam di dalamnya, asal kamu ada di sampingku. Ijinkan aku menemanimu, walau hanya semusim di nerakamu." Dia hanya tertawa menyeringai lalu dia katakan, "Well, kini setelah kau katakan kau mencintaiku, aku rasa aku tak akan dapat melepaskan diri darimu." Aku bertanya, "Apakah kau mau lepas dariku, Jim?" Dia hanya tersenyum, dan mengatupkan matanya mengatakan, "Tidak." Kemudian dia katakan dia mencintaiku. Dia mungkin bersungguh-sungguh juga." Tapi kemudian aku tidak merasakan apapun di jantungku.6

Aku sudah terjebak dalam labirin kegilaannya.

Lalu aku terdiam. Aku ingin momen ini tidak segera berakhir. Reruntuhan gereja itu terlihat lagi di mataku. Pada detik berikutnya aku memeluknya. Aku merasakan tubuhnya menjadi milikku dan kemudian tubuhku menggelepar dengan hebatnya.

Segerombolan kata-kata muncul dari benakku dan aku terpaksa memuntahkannya "Akulah ibumu yang kau cari selama 100 tahun kesunyian, perkosalah aku dengan seluruh idola-idolamu, aku ingin orgasmus dengan bahasa mereka…"

Senja sudah berakhir. Sekarang aku tidak lagi diriku yang lalu, aku menjelma doa-doa senja yang bermekaran di tengah reruntuhan bahasa ini…

Rembang, 26 Pebruari – 1 Maret ‘02

Untuk my fucking beloved city : rembang

semogakaliansemuabasi

Tuesday, June 21st, 2005

didepansebuahpintudenganbalonbalonwarnawarnisesaatsebeluminterviewwiththe

vampirekaumenyapakudengansebuahgumam:semogakaliansemuabasi