deliriumvespertine
DELIRIUM1 VESPERTINE2
Oleh : Bessy
Aku ingat (aku sebenarnya tak berhak menggunakan kata ajaib ini ; hanya satu orang di muka bumi berhak menggunakannya, dan dia sudah mati, namanya Borges). Saat itu senja seperti kemarin, aku mengajak bermain-main anjing kesayanganku, Warhol ke pinggir pantai. Warhol kelihatan sangat gembira, genit dan necis. Mengejar ombak yang surut ke laut dan berlari-lari menghindar ketika ombak kembali mencium pantai. Aku tahu tidak akan pernah lagi mendapatkan kegembiraan yang murni seperti itu. Seperti biasanya aku kembali menantang matahari, tapi matahari senja ini begitu kuat melawanku. Baru 20 detik aku menatapnya, pandanganku menjadi sedikit kabur dan sesudahnya rasa pusing yang asing menyergap. Aku mengarahkan mataku ke arah selatan, mencari rimbunan pohon-pohon untuk meredakan rasa asing ini. Tepat pada saat itu mataku bersitatap dengan mata sayu-kurang-tidur seorang laki-laki dengan buku tebal di tangannya kirinya. "Kamu nggak papa khan ?", dia bertanya. "Nggak papa", jawabku sambil berusaha keras menjaga tubuhku untuk tetap tegak berdiri. "Kenalkan, namaku Jim Morrison". Mendengar suaranya, sebuah komposisi musik Wagnerian lahir di kepalaku. "Nartie", aku menjawab sambil mengulurkan tanganku. Untuk menghilangkan kecanggungan aku bertanya, "Kenapa namamu sama dengan nama vokalis grup kugiran The Doors ?" Dia menjawab "Aku terobsesi dengannya". Aku melihat matahari yang satu itu, hampir tepat di belakang kepalanya. "Tidakkah lebih baik kau menjadi dirimu sendiri ?" tanyaku kembali. Kakiku terasa hangat dijilati anjingku. Sepertinya Warhol sudah bosan bermain-main, selama 6 hari ini dia terus bermain-main. Lalu dengan muka yang dingin dan seperti tanpa perasaan dia berkata, "Tidakkah manusia sudah mati ! Manusia tak lebih dari segerombolan bahasa yang disusun oleh fragmen-fragmen televisi yang terus menerus diulang tayangannya. Lalu dia menyeringai seperti baru saja melakukan kenakalan kecil, seringai yang akan selalu kukenang setiap kali membaca puisi. Jilatan lidah Warhol semakin sering bahkan dia mulai melolong. "Maaf, aku harus pulang!". "Take care, bye !", dia menyahut sambil memaksakan sebuah senyuman padaku. Malamnya aku tidak bisa tidur. Terus menerus aku teringat nada suaranya yang rendah dan berat itu. Dia sangat gentle, berbicara padaku selalu seolah-olah kita sudah berada di atas ranjang, saling menyentuh dengan kerinduan ilahiah seperti mistikus yang berdzikir sambil mendengarkan lagu Violently Happy-nya Bjork. Seperti seorang junkie, aku kecanduan pergi ke pantai setiap senja. Berharap-harap cemas kalau-kalau tak lagi dapat aku melihat matanya. Syukurlah senja memberikan lagi kehidupan bagiku. Untuk sekelebatan bunga-bunga bermekaran dan doa-doa dalam nada gotik yang muram ditembakkan di langit oleh para pendeta abad pertengahan. I found an island in your arms… Country in your eyes… Arms that chain us… Eyes that lie…3dia bersenandung, pandangan matanya jauh ke arah laut, mungkin dia sedang menikmati horizonnya sendiri, utopia itu. Aku menemukan negara di matamu… dia kembali berkata padaku. Aku bingung, aku tidak tahu apa maksudnya… Tapi aku tahu bahwa aku tidak mungkin menanyakannya padanya, dia kembali tenggelam dalam pikiran-pikirannya sendiri. "Kamu melihat reruntuhan gereja4 itu ?", tangannya menunjuk ke arah selatan. Sebuah lingkaran reruntuhan gereja kuno setua Gereja Blenduk Semarang menyeruak dari kejauhan. Aku ingat ketika aku masih kecil, setiap hari Minggu pagi aku sering bermain ayunan di sebelahnya. Sebenarnya saat itu aku hanya ingin mencuri-dengar bahasa asing yang tiba-tiba muncul di sela doa-doa, saat itu aku merasa damai dan tenteram. "Mereka akan membangun aquarium raksasa di sana! Lihatlah orang-orang sudah mulai lupa bagaimana cara menghargai masa lalu kota mereka sendiri. Sayangnya, sekarang aku tidak lagi tertarik dengan hal-ihwal keduniawian lagi. Kemudian dia mengutip William Shakespeare,
I shall fall Like a bright exhalation in the evening, And no man see me more Henry VIII (1613) act 3, sc. 2, l. 226 Lanjutnya, "Aku lebih suka mendengarkan musik dari deburan ombak dan mengingat detil tulisan tangan Tuhan di punggung seekor macan seperti yang aku baca pada Tulisan Tangan Tuhan milik manusia huruf-huruf itu dan tidak berbuat apapun atas pengetahuan maha rahasia itu. Kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padaku sudah habis waktunya, Banjir Nuh telah datang lagi dimulai dari video clip My Sacrifice-nya grup rock Creed. Setelah ini api akan membakar kota-kota, Tuhan memulainya dari Cepu." Maaf mungkin ini terlalu berat buatmu!",dia berkata sambil meringis. "Tidak apa-apa", sahutku. Terus terang aku merasa nyaman mendengarkan nada suaranya itu. Senja berikutnya dia menyerahkan selembar kertas berisi puisi-puisinya. Aku melihat deretan huruf yang memanjang tanpa ruang kosong di sela-selanya dengan logika yang jungkir balik. "Aku membenci spasi", dia berhasil menebak pikiranku. "Aku juga membenci tendensi untuk linear, aku hanya ingin membiarkan huruf-huruf berhamburan dari benakku mengikuti beat, oh demi Afrizal seandainya kau tahu apa yang ada di labirin kepalaku." Aku cuma bisa berkata, "Ya…ya…yaa… Di senja yang lain, aku menemuinya terikat di sebuah tiang di tengah pasir yang sepi di sekitar kakinya berpuluh-puluh mawar terserak membentuk satu lingkaran yang sempurna. Di luar lingkaran itu sebuah pestol mainan anak-anak tergeletak. Dengan wajah panik seolah-olah akulah sang maut itu dia berteriak, "Cepat selesaikan ! Aku sudah lelah ! " Beberapa saat kemudian dia tertawa terbahak-bahak, aku pikir sepertinya dia punya soul seorang badut berkulit hitam. Senja yang ke lima. Dia duduk di atas pasir, tubuhnya basah kuyup, tangannya mencoba meraih botol bir, "Cukup!" kataku sambil merebut botol itu dan segera berlari membuangnya jauh-jauh ke laut. Aku kembali dan tanpa aku sadari air mataku jatuh menetes. "Kenapa kau ingin selalu mabok ?", tanyaku dengan terisak-isak. Aku merasa dadaku berat sekali, dan ya ampun, tidak ada perubahan raut muka pada dirinya."Kamu jahat !" Aku mulai berteriak. Terjadi sedikit kemajuan tangannya meraih kedua tanganku dan berkata, " You ‘re lost littlegirl… Learn to forget…. ‘cause I ‘ve lost my good old mama "Aku tahu kamu jatuh cinta padaku ! Tapi, maaf, aku bukalah laki-laki yang tepat buatmu. Aku telah terjebak pada sebuah semesta chaos dan tak bisa lagi keluar. Aku telah menjalani dan akan terus menjalani sebuah cara hidup yang salah, membenci realitas dan hidup di dalam dunia imajinasi. Aku nggak mau ada perempuan yang terseret dalam neraka ini. Aku yakin kau akan mampu melupakanku." Semesta, ya ampun aku melihat Jelaludin Rumi menari-nari bersama ribuan bintang di matanya yang selalu sayu itu. "Tidak akan ada yang mampu bertahan berada di dekatku. Aku terus menerus menguji orang, mencoba mencari tahu sejauh mana mereka akan mau bertahan berhadapan dengan seluruh perasaan-perasaan sedihku, bagaimana mereka akan bereaksi atas diriku. Bahkan aku sudah bosan dengan diriku sendiri ". Mataku jauh menerawang ke horizon, "Aku mencintaimu", kataku pelan.
"
and must have whiskey, oh, you now why5…Sekarang matanya menatap langsung mataku seolah-olah aku ini ibunya. Aku menunduk. Sebuah rahasia tak lagi bisa disembunyikan. Aku tahu aku telah jatuh cinta padanya. Pada saat yang bersamaan aku juga tahu bahwa dia lebih suka sendiri dengan seluruh perasaan-perasaan sedihnya yang hampir-hampir sempurna itu.
Aku sudah terjebak dalam labirin kegilaannya.
Lalu aku terdiam. Aku ingin momen ini tidak segera berakhir. Reruntuhan gereja itu terlihat lagi di mataku. Pada detik berikutnya aku memeluknya. Aku merasakan tubuhnya menjadi milikku dan kemudian tubuhku menggelepar dengan hebatnya.
Segerombolan kata-kata muncul dari benakku dan aku terpaksa memuntahkannya "Akulah ibumu yang kau cari selama 100 tahun kesunyian, perkosalah aku dengan seluruh idola-idolamu, aku ingin orgasmus dengan bahasa mereka…"
Senja sudah berakhir. Sekarang aku tidak lagi diriku yang lalu, aku menjelma doa-doa senja yang bermekaran di tengah reruntuhan bahasa ini…
Rembang, 26 Pebruari – 1 Maret ‘02
Untuk my fucking beloved city : rembang
April 4th, 2006 at 10:06 pm
wuih…lumayan capek plus senyum-senyum ndiri yah…kalo baca tulisan kamu..
jadi bawaannya pengen nulis.. teruss deh…
sesuatu yang indah…kadang udah ada di depan mata yang sebenaranya tanpa kita cari susah-susah pun sudah bisa kita lihat dengan mata telanjang kita sendiri…
yang sebenarnya tanpa kita cari dia sudah datang dengan sendirinya…
…sesuatu yang indah…
June 15th, 2006 at 10:29 am
Eh, ngga tau nih. Semalam ada temen telp dan kita nyanyi2 lagulagu jaman dulu dan ketemunya beatles dan inget john lennon dan inget bessy waktu nge-YM. dan pingin nyanyi ini:
There are places I remember
All my life, though some have changed,
Some forever, not for better,
Some have gone and some remain.
All these places had their moments,
With lovers and friends I still can recall,
Some are dead and some are living,
In my life I’ve loved them all.
and ur writings … susah dilupakan. jangan2 mendogma yah?
January 16th, 2007 at 5:33 am
five to one, baby
one in five
no one here gets out alive, now!
—-
can you picture what will be
so limitless and free
desperately in need of some stranger’s hand
in a deseperate land
—-
a bitterside of romance is in the air, is everybody in?